Kajian Akhir Pekan Majelis Qur'an Venezia Residence, Sabtu 26 Sapar 1435 H

Kepada Yth.Jamaah MQ Venezia Residence
Di-Bumi Venezia

Assalamualikum.Wr.Wb

Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan kekuatan kesehatan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Mohon Kehadirannya Pada Kajian Akhir Pekan MQ yang akan dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal  : Sabtu, 26 Sapar 1435 H
Tempat         : Rumah Abu Syihaba Blok D2/8
Pukul            : 20.00 s/d 22.00
Talaqi           : QS.AT-Takaatsur

Demikian undangan ini kami sampaikan semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua untuk terus menuntut ilmu.

Wassalamualikum.Wr.Wb


Abu Syihana

Kajian Akhir Pekan Majelis Qur'an Venezia Residence, 20 Sapar 1435 H



Kepada Yth.Jamaah MQ Venezia Residence

Di-Bumi Venezia

Assalamualikum.Wr.Wb

Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan kekuatan kesehatan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Mohon Kehadirannya Pada Kajian Akhir Pekan MQ yang akan dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal  : Ahad, 20 Sapar 1435 H
Tempat         : Rumah Bapak.Sapto,  Blok D7/22
Pukul            : 20.00 s/d 22.00
Talaqi           : QS.Al-'Ashr

Demikian undangan ini kami sampaikan semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua untuk terus menuntut ilmu.

Wassalamualikum.Wr.Wb


Abu Syihana

Kajian Akhir Pekan MQ Venezia Residence Cileungsi, Ahad, 13 Sapar 1435 H

Assalamualikum.Wr.Wb

Kepada Yth.Jamaah MQ Venezia ResidenceDi-Bumi Venezia

Assalamualikum.Wr.Wb

Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan kekuatan kesehatan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Mohon Kehadirannya Pada Kajian Akhir Pekan MQ yang akan dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal  : Ahad, 13 Sapar 1435 H
Tempat         : Rumah Bapak.Tri Mukti,  Blok D
Pukul            :20.00 s/d 22.00
Talaqi           : QS.Al-'Ashr

Demikian undangan ini kami sampaikan semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua untuk terus menuntut ilmu.

Wassalamualikum.Wr.WbAbu Syihana

Hujan itu Membuatmu Cantik



Sore itu, sepulang dari agenda di salah satu sekolah islam di Surakarta ku lewati jalan Slamet Riyadhi yang tak pernah sepi dari pengendara.

Suasana hiruk pikuk kendaraan di tengah hujan deras yang mengguyur menemani perjalanan pulangku. Waktu menunjukan pukul empat sore, langit belum begitu gelap dan udara terasa dingin.
Sambil berkendara kutatap jalan di depan dan sekitarnya. Saat itu pandanganku
mengarah ke seorang ibu yang terlihat begitu cantik dan anggun sedang berdiri di depan sebuah toko.
Sekilas ibu itu terlihat menggenakan jubah dan jilbab lebar. Tapi setelah lebih dekat ku tengok, ternyata sang ibu hanya menggunakan sebuah jas hujan panjang yang menjuntai ke tanah.
Seketika itu juga terlintas dipikiranku, “Betapa cantiknya muslimah itu bila ia mengenakan penutup aurat syar’i yang tidak lain dan tidak bukan adalah jilbab syar’i.”

Selepas melihat ibu tadi kulanjutkan perjalananku. Pikiran tentang jilbab masih menggelitik di benakku. Beberapa saat aku berhenti di lampu merah. Ku tengok sebelah kanan, terlihat gadis kecil yang begitu cantik, polos dan lucu mengenakan jas hujan berwarna pink. Ia duduk di sebuah motor dan memandang ke arahku.
Setelah itu pandangannku mulai menyebar, ke kiri dan kebelakang, ku lihat hampir semua pengendara mengenakan jas hujan, termasuk para muslimah yang tidak berjilbab ataupun mereka yang hanya mengenakan “pembungkus aurat”.

Pemandangan langka yang mungkin tak kutemui di jalan raya selain saat hujan.
Ya.. para muslimah itu terlihat cantik dengan jas hujan yg menutupi auratnya.  Bilamana mereka mau menggunakan penutup aurat syar’i setiap hari. Tentulah kecantikan sejati mereka kian terpancar.
“Wahai saudariku, kau lindungi dirimu dari hujan tapi mengapa tak kau lindungi dirimu (aurat) dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu?”

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ
شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ  اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا
يُؤْمَرُون
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai (perintah ) Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”, Q.S. A-Tahrim/66: 6

Belum sampaikah kepadamu perintah berjilbab saudariku? Atau memang nafsumu yang mengingkarinya?

َا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ
الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ
أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا
رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: 
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab:59)

Wahai saudariku, Jilbab syar’i itu tidak memudarkan kecantikanmu sedikitpun, justru ia semakin memperkuat dan menjaganya. 
Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda ‘, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim).
Mari saudariku.. mari berhijab syar’i mulai saat ini..
Jangan sampai JILBAB SYAR'I PERTAMA kita adalah JILBAB TERAKHIR kita..
yaitu KAIN KAFAN.. wal’iyadzu billah..
Penulis: Latifah Sab'ah

Sumber :http://www.voa-islam.com

Jadwal Kajian Akhir Pekan, 6 Sapar 1435 H


Assalamualikum.Wr.Wb

Kepada Yth.
Jamaah MQ Venezia Residence
Di-Bumi Venezia

Assalamualikum.Wr.Wb
Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan kekuatan kesehatan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Mohon Kehadirannya Pada Kajian Akhir Pekan MQ yang akan dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal :Ahad, 6 Sapar 1435 H
Tempat : Rumah Bapak.Eko Wahyu Setiawan,  Blok D
Pukul   :20.00 s/d 22.00
Talaqi : Al-Humajah


Demikian undangan ini kami sampaikan semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua untuk terus menuntut ilmu.

Wassalamualikum.Wr.Wb

Abu Syihana

25 Miliar untuk Kondom, Nol Untuk Jilbab Polwan?

Sumber Gambar : http://hizbut-tahrir.or.id

Hari Kondom Nasional dalam Perspektif saya sebagai Pendidik dan Penggiat Sekolah Akhlak:

Membaca berita Hari Kondom Nasional sungguh menyayat hati saya, betapa tidak di tengah negeri ini dalam krisis moral, Pemerintah melalui kementrian kesehatan malah membagikan kondom gratis. belum usai pemberitaan tentang kasus Vidio Porno Siswa SMPN 4 Sawah Besar dan Pemerkosaan Mahasiswa UI oleh salah satu anggota komunitas di Negeri ini, pemerintah malah membagikan kondom Gratis dengan alih pendidikan seks agar generasi muda terbebad dari penyakit AIDS.

Pembagian Kondom Gratis Bertentangan dengan Nilai Islam

Bagiamanpun Pembagian Kondom Gratis adalah bertentangan dengan Nilai-nilai Islam, sudah sangat jelas di dalam Islam mendekati Zina saja tidak boleh apa lagi melakukannya. maka wajar jika kegiatan ini di tolak oleh berbagai lembaga, ormas, tokoh dan masyarakat, Termasuk kami sebagai Guru.


Kondom dan Jilbab kini sedang menjadi Pemberitaan di media masa, sangat ironi memang negeri yang katanya Mayoritas Muslim ini, malah menjadi negara sekuler dengan berbagai kebijakannya. pemerintah menyediakan dana 25 Miliar untuk kondom, yang jelas-jelas tidak memberikan manfaat apa-apa untuk generasi muda, malah  banyak kalangan menilai kegiatan ini justru akan menyuburkan perilaku seks bebas di kalangan generasi muda. lalu bagaimana dengan Jilbab, yang sudah jelas-jelas ada syariatnya di dalam agama Islam bahwa perempuan wajib berjilbab atau menutup auratnya, malah dikatakan tidak ada anggaran? sungguh lucu negeri ini, setiap hari bersandiwara dalam kepalsuan.

Kementrian Kesehatan dan Kemendikbud tidak sejalan membangun Generasi Muda

Ditengah-tengah kemendikbud sedang gencar-gencar melakukan pelatihan kurikulum 2013 dan pendidikan karakter, yang tujuannya untuk membangun moral generasi bangsa, kemenkes malah asyik merancuni karakter  generasi bangsa ini dengan membagikan kondom gratis di kampus-kampus. buat saya sebagai pendidik bagaimanapun pembagian kondom gratis adalah sesuatu yang tidak beretika, karena kondom indentik degan perzinahan.

Hah..... saya hanya bisa menarik nafas, ya Allah ampunilah kami, janganlah engkau beri azab negeri yang penuh dengan koruptor ini, dengan yang rusak moral pemimpinya. karena di negeri ini masih banyak orang-orang yang bersemangat membangun generasi umat dan bangsa. Ayo Bangun Generasi Berakhklak.

Mentari Pagi Sekolah Akhlak|29 Muharam 1435 H

Sudahkah kita memilih siapa Orang yang akan mensholatkan dan mengantarkan Jenazah Kita?

Sumber Gambar :hakiriecakep.blogspot.com

Hari Senin yang lalu, tepatnya tanggal 28 Muharam 1435 H, sebelum saya berangkat ke-sekolah sambil menunggu sarapan pagi siap, saya mendengarkan sebuah Radio Islam. saya tersentak mendengarkan sebuah pertanyaan sang Ustadz mengawali kajiannya, beliau bertanya "Sudahkah kita memilih siapa orang yang akan mensholatkan Jenzah kita". badan saya langsung merinding dan menerwang kemana-kemana, sebuah pertanyaan yang menganggetkan hati saya, bagaimanapun pertanyaan agak aneh. sebuah pertanyaan yang tidak pernah kita pertanyakan pada diri kita. kajian terus saya dengarkan dengan serius, yang akhirnya menyadarkan diri saya, bahwa pertanyaan itu Wajib kita tanyakan pada diri kita dan kita Jawab sendiri.

Siapakah orang yang akan mensholatkan Jenazah Kita?

Jawablah pertanyaan ini, siapakah orang yang akan mensholatkan jenazah kita, sudahkah kita memilih atau memang kita jangan-jangan cuek dan tidak peduli dengan hal ini, toh pasti ada yang mensholatkan jenajah kita. ya, dari sekarang kita harus memilih siapa orang yang akan mensholatkan jenazah kita, maka tentu kita pasti ingin memilih orang-orang yang soleh dan solehah. pertanyaanya sudahkan kita menjadikan diri kita soleh atau solelah? sudahkah kita bergaul dengan orang-orang soleh atau solehah? sudahkan kita mendatangai tempat-tempat kajian yang akan membuat diri kita dan soleh atau solehah?pertanyaan yang wajib kita jawab. apakah kita mau di sholatkan oleh orang-orang yang tidak pernah sholat, apakah kita mau di sholatkan oleh pemabuk dan pejudi, apakah kita mau di sholatkan oleh orang-orang yang sholatnya hanya idul fitri dan idul adha. Mari kita menyiapkan diri kita dengan sebaik mungkin agar orang yang mensholatkan diri kita adalah orang-orang terbaik pilihan Allah SWT.

Siapa orang yang akan mengantarkan Jenazah kita?

Sebuah pertanyaan yang wajib kita jawab kembali, kita tentu pernah mengantarkan jenazah saudara, teman atau tetangga kita yang meninggal, pernahkah kita perhatikan di sekelilingnya siapakah mereka yang mengantarkannya?. mari dari sekarang kita memilih siapa kelak yang akan mengantarkan Jenazah kita, tentu kita ingin mereka adalah orang-orang yang soleh, pilihan terbaik Allah, orang-orang yang Allah muliakan. oleh sebab itu jika jenajah kita ingin diantarkan oleh orang-orang yang Allah muliakan, maka dari sekarang kita Muliakan Allah SWT, dengan melaksanakan segala kewajiban diri kita, Insyallah Allah akan memuliakan diri kita.

Semoga sebuah renungan ini bisa menggugah hati kita, mari kita perbaiki akhlak kita, kita tingkatkan ibadah kita, kita bertekad untuk terus Sholat Berjamaah di Masjid, bagi laki-laki dan para perempuan untuk senantiasa menjaga kehormatan dirinya dan menjaga sholat lima waktunya. mari kita mengaji Al-Qur'an, karena Al-Qur'an adalah sumber ilmu pengetahuan. mari kita sadarkan orang tua kita, saudara kita, murid-murid kita dan tetangga kita agar semua menyiapkan diri untuk kematian kelak yang pasti akan terjadi pada diri kita. Jangan lupa mampir kesini klik aja

Namin AB Ibnu Solihin|02 Safar 1435 H

Jadwal Kajian Akhir Pekan MQ Venezia Residence Cileungsi, Ahad, 28 Muharam 1435 H

Assalamualikum.Wr.Wb

Kepada Yth.
Jamaah MQ Venezia Residence
Di-Bumi Venezia

Assalamualikum.Wr.Wb
Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan kekuatan kesehatan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Mohon Kehadirannya Pada Kajian Akhir Pekan MQ yang akan dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal :Ahad, 28 Muharam 1435 H
Tempat : Rumah Bapak Gatot
Pukul   :20.00 s/d 22.00
Talaqi : Al-Fil
Demikian undangan ini kami sampaikan semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua untuk terus menuntut ilmu.

Wassalamualikum.Wr.Wb

Bolehnya Singkatan "SAW" atau "Aslkm wr wb", dan Sejenisnya (Fatwa Syaikh Al-Albani rahimahullah)


Tentunya semua orang akan sepakat bahwa yang terbaik adalah tidak menyingkat lafal-lafal doa, akan tetapi menuliskannya dengan sempurna. Sholawat kepada Nabi hendaknya ditulis lengkap "Shallallahu 'alaihi wa sallam", demikian juga memberi salam hendaknya ditulis dengan lengkap "Assalaamu'alaikum warahmatullaaahi wa barokaatuhu".

Akan tetapi yang menimbulkan pernyataan, kita banyak mendapati kaum muslimin yang menyingkat-nyingkat doa-doa tersebut, tentunya sama sekali bukan dalam rangka meremehkan doa-doa tersebut, namun kemungkinan terbesar adalah demi menyingkat waktu dalam penulisan.

Toh kenyataannya kita dapati –dalam hal ucapan- tidak ada seorang muslimpun yang menyingkat doa. Setiap muslim tatkala memberi salam kepada saudaranya dengan ucapan maka iapun mengucapkannya dengan sempurna, demikian juga tatkala bersholawat kepada Nabi mengucapkan doa sholawat tersebut dengan sempurna.
Jika demikian perkaranya hanyalah permasalahan "menyingkat" dalam tulisan, bukan dalam ucapan. Apakah hukumnya haram?, ataukah boleh??!

Syaikh Al-Albani rahimahullah pernah ditanya tentang permasalahan ini :

Pertanyaan :

ما حكم كتابة الحرف ( ص ) بعد لفظة النبي صلى الله عليه وسلم في الكتاب.؟
Apa hukum penulisan huruf (ص) setelah penulisan lafal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di buku?

Jawab :

لا مانع من ذلك، بخلاف ما يفعله بعضهم قديما (صلعم) إختصار أوسع،أكثر حرفا من (ص) لأن ذلك أُوهم أنها كلمة،وبعض العامة والجهلة لا يفقهها،وأما (ص) فأصبحت رمزا للصلاة على النبي صلي الله عليه وسلم، لذلك أنا ما أرى مانعا من إستعمال هذه اللفظة لأنها لا يُسئ فهمها
"Tidak mengapa, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang dahulu dengan menulis singkatan "صلعم" (yaitu ringkasan dari صـلـى الله عليه وسلم -pen), yaitu bentuk ringkasan yang lebih luas dan lebih banyak hurufnya daripada (ص), karena tulisan (صلعم) mengesankan adalah sebuah kata (shol'am), dan sebagian orang awam serta orang-orang bodoh tidak memahaminya (kalau itu hanya singkatan-pen). Adapun singkatan (ص) maka menjadi simbol bagi sholawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Karenanya aku memandang tidak mengapa menggunakan lafal ini (ص sebagai ringkasan shalawat-pen) karena tidak disalah fahami" (Transkrip dari kaset Silsilah Al-Hudaa wa An-Nuur, kaset no 165, silahkan lihat http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=6110)

          Sangat jelas dari perkataan Syaikh Al-Albani bahwasanya jika simbol (yang merupakan singkatan) tidak menimbulkan kesalah fahaman bagi orang awam maka tidak mengapa untuk digunakan. Karena tujuan dari simbol tersebut bukanlah untuk dibaca, tapi yang dibaca adalah sholawatnya secara lengkap. Simbol tersebut hanyalah sebagai pemberitahuan untuk bersholawat.

Dari jawaban Syaikh Al-Albani di atas maka bisa kita simpulkan akan bolehnya menyingkat shalawat kepada Nabi dengan "SAW", demikian juga menyingkat salam dengan "Ass Wr Wb", atau menjawab salam dengan "Wlkm wr wb", atau yang semisalnya yang tentunya telah dipahami maksudnya oleh pembaca.

          Pendapat Syaikh Al-Albani rahimahullah ini diselisihi oleh mayoritas ulama. Kebanyakan ulama memandang penyingkatan shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah makruh. Silahkan lihat fatwa-fatwa mereka  di http://www.artikelmuslim.com/2012/02/fatwa-ulama-seputar-hukum-menyingkat.html atau di http://www.konsultasisyariah.com/hukum-menyingkat-tulisan-shalawat-nabi/

Namun As-Sakhoowi rahimahullah (wafat 902 H) dalam kitabnya Fathul Mughiits (Syarah 1000 bait Al-Haafiz al-'Irooqi) lebih cenderung kepada pendapat bahwa penyingkatan tersebut hanya masuk pada kategori خِلاَفُ الأَوْلَى "Menyelisihi yang lebih utama", dan tidak sampai pada kategori makruh. Berikut pernyataan beliau rahimahullah

واجتنب أيها الكاتب الرمز لها أي للصلاة على رسول الله صلى الله عليه و سلم في خطك بأن تقتصر منها على حرفين ونحو ذلك فتكون منقوصة صورة كما يفعله الكسائي والجهلة من أبناء العجم غالبا وعوام الطلبة فيكتبون بدلا صلى الله عليه وسلم ص أو صم أو صلم أو صلعم فذلك لما فيه من نقص الأجر لنقص الكتابة خلاف الأولى.
وتصريح المصنف فيه وفيما بعده بالكراهة ليس على بابه ...لكن وجد بخط الذهبي وبعض الحفاظ كتابتها هكذا صلى الله علم وربما اقتفيت أثرهم فيه بزيادة لام أخرى قبل الميم مع التلفظ بهما غالبا والأولى خلافة
"Wahai sang penulis, hendaknya engkau menjauhi penulisan simbol untuk bersholawat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam tulisanmu, yaitu engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan yang semisalnya. Maka jadilah bentuk sholawatnya menjadi berkurang, sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Kisaai, orang-orang jahil dari orang-orang 'ajam secara umum, dan juga para penuntut ilmu yang awam. Sebagai pengganti صلى الله عليه وسلم mereka tulis (ص) atau (صم) atau (صلم) atau (صلعم). Hal ini dikarenakan akan mengurangi pahala dikarenakan kurangnya tulisan. Ini adalah menyelisihi yang lebih utama.

Dan penegasan sang penulis (Yaitu Al-Haafiz Al-'Irooqi rahimahullah-pen) di bait ini dan juga pada bait setelahnya akan makruhnya (hal ini) maka bukanlah pada makna biasanya…

Akan tetapi ditemukan khot (tulisan tangan) Al-Imam Adz-Dzahabi dan juga sebagian para huffaz penulisan shalawat kepada Nabi seperti ini (صلى الله علم), dan terkadang aku mengikuti cara mereka (dalam penyingkatan-pen) dengan menambah huruf laam yang lain sebelum huruf miim (yaitu jadinya صلى الله عللم -pen) dengan biasanya disertai melafalkan sholat dan salam. Dan yang lebih utama adalah tidak melakukannya" (Fathul Mughiits 3/70-71, tahqiq Ali Husain Ali, cetakan Wizaaroh Asy-Syu'uun Al-Islaamiyah wal Awqoof wa Ad-Da'wah wa Al-Irsyaad)

Perhatikanlah perkataan As-Sakhoowi "makruhnya (hal ini) maka bukanlah pada makna biasanya", menunjukkan beliau tidak setuju bahwa penyingkatan shalawat dalam tulisan dihukumi makruh. Sehingga beliau menafsirkan kata "makruh" yang disebutkan oleh Al-Haafiz al-'Irooqi bahwa makruh tersebut bukan pada makna makruh dalam makna biasanya yaitu makruh dalam hukum fikih. Akan tetapi wallahu a'lam, seakan-akan As-Sakhoowi hanya memandang makruh tersebut dalam adab saja bukan dalam hukum. Karenanya beliau menegaskan bahwa beliau juga melakukan penyingkatan tersebut terkadang akan tetapi hanya dalam tulisan, dan tatkala beliau menyingkat dalam tulisan mulut beliau tetap mengucapkan sholat dan dan salam kepada Nabi dalam bentuk ucapan. Akan tetapi beliau tetap memandang bahwa menyingkat hanyalah menyelisihi yang lebih utama.

          Pendapat As-Sakhoowi rahimahullah ini saya kira sama dengan pendapat Syaikh Al-Albani, bahwasanya penyingkatan shalawat hukumnya boleh, hanya saja menyelisihi yang lebih utama, karena tentunya dengan menulisnya secara lengkap akan mendapatkan pahala menulis sholawat tersebut, selain juga mendapatkan pahala mengucapkan secara lisan sholawat tersebut.

Pendapat Syaikh As-Sakhowi dan Al-Albani cukup kuat mengingat :

Pertama : "Makruh" salah satu bentuk vonis hukum dalam hukum-hukum fikih. Tentunya vonis tersebut butuh dalil, sebagaimana pernyataan "mubaah", "sunnah", "haram", dan "wajib" juga butuh dalil. Dan dalam hal penyingkatan shalawat maka hukum asalnya adalah mubaah (boleh), kecuali ada dalil yang memalingkan kepada makruh.

Kedua : Tujuan dari tulisan adalah dibaca, karenanya huruf-huruf untuk mengungkapkan sesuatu ucapan bisa saja berbeda-beda. Untuk mengungkapkan sholawat kepada Nabi yaitu dengan ucapan (صلى الله عليه وسلم) bisa dengan menggunakan huruf Arab (huruf hijaiyah) atau dengan huruf latin, atau dengan huruf cina atau jepang, atau huruf jawa kuno, dll. Yang intinya dibuatnya tulisan adalah untuk dibaca, jika suatu tulisan sudah dipahami maksud bacaannya maka telah tercapai tujuan tulisan tersebut, karena tulisan adalah wasilah/sarana saja, tujuannya adalah bacaan. Jika tujuannya telah tercapai dengan tulisan huruf apapun maka wallahu A'lam tidak mengapa.

Karenanya syaikh Al-Albani rahimahullah memandang tidak mengapa jika lafal sholawat disingkat menjadi (ص) karena orang yang membacanya sudah paham tujuan dari tulisan huruf shood ini, yaitu untuk bershalawat. Akan tetapi beliau kurang setuju dengan singkatan (صلعم) karena dikawatirkan akan disalah pahami sehingga akan dibaca oleh orang yang tidak mengerti dengan "Shol'ama" yang tidak tahu bahwa itu adalah singkatan dari sholawat kepada Nabi. Artinya beliau kawatir tujuan dari tulisan tidak tercapai. Dengan demikian jika tujuan dari tulisan huruf-huruf telah tercapai maka hukumnya tidak mengapa. Sebagaimana tulisan SAW, saya rasa rata-rata orang akan faham maksudnya adalah untuk bersholawat kepada Nabi dengan mengucapkan "Shallallahu 'Alaihi Wasallam", dan bukan dibaca "saw'.

Ketiga : Jika kita menjadikan teks tulisan yang tertera sebagai tujuan maka yang hanya bisa mengungkapkan sholawat kepada Nabi dengan tepat adalah huruf Arab hijaiyah. Adapun huruf latin, huruf jawa kuno, huruf jepang, apalagi huruf cina tentu tidak akan bisa mengungkapkan sholawat dengan tepat. Sebagai contoh di dalam bahasa Inggris, atau bahasa, jawa, dan juga huruf cina dan jepang, kemungkinan besar tidak ada yang bisa mewakili huruf (ع) 'ain, demikian juga huruf (ص). Karenanya kalau kita hanya bersandar kepada teks yang tertulis dengan melalaikan bahwa teks tersebut hanyalah sarana dan bukan tujuan, maka kita katakan penulisan sholawat dalam bahasa Indonesia sebagai berikut merupakan kesalahan : "Salalahu alaihi wa salam". Ini adalah kesalahan karena jika dibaca leterlek maka tidak akan mewakili sholawat yang benar, karena tidak mewakili huruf shood, dan malah cenderung mewakili huruf siin, demikian juga tidak mewakili huruf 'ain, tetapi lebih cenderung mewakili huruf hamzah, demikian juga huruf lam nya tidak didouble. Yang paling mendekati kebenaran adalan "Shollallahu 'alaihi wa sallam"

Keempat : Dari penjelasan poin di atas maka saya kurang setuju dengan penghukuman sebagian orang yang menyatakan bahwa menyingkat (السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ) dengan Ass wr wb adalah kesalahan, dikarenakan makna "Ass" dalam bahasa Inggris adalah makna yang jorok. Hal ini dikarenakan sbb :
  • Tujuan dari tulisan adalah bacaan, dan tujuan penulisan "Ass wr wb" bukanlah maksudnya dibaca secara leterlek "Ass". Saya rasa ini dipahami oleh semua orang yang berakal. Demikian juga kalau tujuannya hanya membaca teks secara leterlek maka bagaimana mau dibaca "wr" dan "wb"??
  • Penulisan singkatan tersebut (yaitu Ass wr wb) dimaksudkan adalah dalam bahasa Indonesia, karenanya janganlah dibawa kepada makna bahasa-bahasa yang lain. Jika caranya demikian maka bisa jadi kita akan terjerumus dalam banyak kesalahan. Sebagai contoh kata "butuh" dalam bahasa Indonesia adalah maknanya "perlu", tapi dalam bahasa Malaysia maknanya konon adalah "kemaluan". Demikian juga misalnya kata "naik" dalam bahasa Indonesia artinya beranjak dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi, akan tetapi dalam bahasa Arab artinya "berhubungan tubuh/seks"
  • Jika kita membawa tulisan Indonesia ke makna-makna dalam bahasa lain, seperti Ass dalam bahasa inggris artinya "pantat" maka jadilah penyingkatan ini menjadi haram, bukan hanya makruh. Demikian juga mungkin saja kata "SAW" dalam bahasa-bahasa yang lain bisa jadi bermakna buruk. Padahal mayoritas ulama hanya menyatakan hukumnya sekedar makruh dan tidak sampai pada derajat haram. Wallahu A'lam.

Kelima : Sering kita butuh pada singkatan-singkatan tersebut dalam menulis sms dalam rangka untuk menghemat biaya dan menghemat waktu. Karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwasanya kecepatan mengucapkan (berbicara dengan lisan) lebih cepat daripada kecepatan pengungkapan dengan tulisan.

Keenam : Kita juga mendapati para ulama melakukan penyingkatan, seperti (نا) yang merupakan singkatan dari (حدثنا), demikian juga misalnya kata (بسملة) yang merupakan singkatan dari (بسم الله الرحمن الرحيم), juga kata (حمدلة) singkatan dari (الحمد لله), juga kata (حيفلة) singkatan dari (حي على الفلاح) juga kata (حولقة) yang merupakan singkatan dari (لا حول ولا قوة إلا بالله).

Ketujuh : Diriwayatkan bahwsanya sebagian ahlil hadits menuliskan kata "Nabi" tanpa menuliskan (صلى الله عليه وسلم), akan tetapi hanya mencukupkan mengucapkan sholawat kepada Nabi dengan lisan tidak dengan tulisan. Jika perkaranya dibolehkan maka tentu menulis singkatan sholawat dalam rangka untuk mengingatkan pembaca agar bersholawat juga dibolehkan. Wallahu A'lam bis Showaab 


Catatan :
  • Bagaimanapun menulis doa secara lengkap itulah yang dianjurkan, dan lebih baik, serta sang penulis akan mendapatkan pahala dari tulisannya tersebut selain pahala ucapan.
  • Tulisan ini juga dimaksudkan untuk mengingatkan kepada para pembaca yang tatkala menegur orang yang menyingkat shalawat atau menyingkat salam dengan terkesan seakan-akan perbuatan tersebut adalah haram dan terhina pelakunya.

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 16-11-1434 H / 22 September 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com

Riya Terselubung


Syaitan tidak berhenti berusaha menjadikan amalan anak Adam tidak bernilai di sisi Allah. Diantara cara jitu syaitan adalah menjerumuskan anak Adam dalam berbagai model riyaa'. Sehingga sebagian orang "KREATIF" dalam melakukan riyaa', yaitu riyaa' yang sangat halus dan terselubung. Diantara contoh kreatif riyaa' tersebut adalah :

Pertama : Seseorang menceritakan keburukan orang lain, seperti pelitnya orang lain, atau malas sholat malamnya, tidak rajin menuntut ilmu, dengan maksud agar para pendengar paham bahwasanya ia tidaklah demikian. Ia adalah seorang yang dermawan, rajin sholat malam, dan rajin menuntut ilmu. Secara tersirat ia ingin para pendengar mengetahui akan amal ibadahnya.

Model yang pertama ini adalah model riya' terselubung yang terburuk, dimana ia telah terjerumus dalam dua dosa, yaitu mengghibahi saudaranya dan riyaa', dan keduanya merupakan dosa besar. Selain itu ia telah menjadikan saudaranya yang ia ghibahi menjadi korban demi memamerkan amalan sholehnya
Kedua : Seseorang menceritakan nikmat dan karunia yang banyak yang telah Allah berikan kepadanya, akan tetapi dengan maksud agar para pendengar paham bahwa ia adalah seorang yang sholeh, karenanya ia berhak untuk dimuliakan oleh Allah dengan memberikan banyak karunia kepadanya.

Ketiga : Memuji gurunya dengan pujian setinggi langit agar ia juga terkena imbas pujian tersebut, karena ia adalah murid sang guru yang ia puji setinggi langit tersebut. Pada hakikatnya ia sedang berusaha untuk memuji dirinya sendiri, bahkan terkadang ia memuji secara langsung tanpa ia sadari. Seperti ia mengatakan, "Syaikh Fulan / Ustadz Fulan…luar biasa ilmunya…, sangat tinggi ilmunya mengalahkan syaikh-syaikh/ustadz-ustadz yang lain. Alhamdulillah saya telah menimba ilmunya tersebut selama sekian tahun…"

Keempat : Merendahkan diri tapi dalam rangka untuk riyaa', agar dipuji bahwasanya ia adalah seorang yang low profile. Inilah yang disebut dengan "Merendahkan diri demi meninggikan mutu"

Kelima : Menyatakan kegembiraan akan keberhasilan dakwah, seperti banyaknya orang yang menghadiri pengajian, atau banyaknya orang yang mendapatkan hidayah dan sadar, akan tetapi dengan niat untuk menunjukkan bahwasanya keberhasilan tersebut karena kepintaran dia dalam berdakwah

Keenam : Ia menyebutkan bahwasanya orang-orang yang menyelisihinya mendapatkan musibah. Ia ingin menjelaskan bahwasanya ia adalah seorang wali Allah yang barang siapa yang mengganggunya akan disiksa atau diadzab oleh Allah.

Ini adalah bentuk tazkiyah (merekomendasi) diri sendiri yang terselubung.

Ketujuh : Ia menunjukkan dan memamerkan kedekatannya terhadap para dai/ustadz, seakan-akan bahwa dengan dekatnya dia dengan para ustadz menunjukkan ia adalah orang yang sholeh dan disenangi para ustadz. Padahal kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari dekatnya seseorang terhadap ustadz atau syaikh, akan tetapi dari ketakwaan. Ternyata kedekatan terhadap ustadz juga bisa menjadi ajang pamer dan persaingan.

Kedelapan : Seseorang yang berpoligami lalu ia memamerkan poligaminya tersebut. Jika ia berkenalan dengan orang lain, serta merta ia sebutkan bahwasanya istrinya ada 2 atau 3 atau 4. Ia berdalih ingin menyiarkan sunnah, akan tetapi ternyata dalam hatinya ingin pamer. Poligami merupakan ibadah, maka memamerkan ibadah juga termasuk dalam riyaa'.

        Para pembaca yang budiman, ini sebagian bentuk riyaa' terselubung, semoga Allah melindungi kita dari terjerumus dalam bentuk-bentuk riyaa’ terselubung tersebut. Tidak perlu kita menuduh orang terjerumus dalam riyaa' akan tetapi tujuan kita adalah untuk mengoreksi diri sendiri.

Hanya kepada Allahlah tempat meminta hidayah dan taufiiq.

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 22-03-1434 H / 04 Februari 2013 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com

Bergaul kepada manusia dengan akhlak yang baik


Perhiasan terbaik bagi seseorang adalah agama yang kuat dan akhlak yang mulia. Sesungguhnya kebaikan akhlak merupakan sifat yang mulia nan tinggi. Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengannya, niscaya sifatnya akan terhias indah dan hatinya akan jernih. Akhlak yang baik mencabut kedengkian dan memikat hati. Akhlak yang baik merupakan kehidupan kedua dan kehormatan abadi bagi setiap muslim. Akhlak yang baik merupakan sifat yang tinggi.
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
‎إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.”
(Shahiih, HR. Ahmad; lihat as-silsilah ash-shahiihah)
Segala makna yang dikandung oleh sifat ini mensucikan seorang muslim dari kotoran-kotoran lisan dan qalbu. Kemudian, dengan semua itu dia menaiki martabat ihsan kepada penciptaNya dan sesama manusia. Dengan akhlak mulia, seorang muslim akan meraih kesempurnaan dalam imannya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
‎أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. At-Tirmidzi no. 1082. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 1232; dinukil darisini)
Bila kita membaca siroh (perjalanan hidup) beliau, niscaya akan kita dapatkan wujud nyata dari sabda beliau ini, beliau benar-benar sebagai uswah paling bagus dalam menerapkan akhlak karimah. Sebagai seorang hamba, beliau adalah hamba Allah yang paling mulia akhlaknya, sebagai seorang pemimpin, beliau adalah pemimpin yang paling adil, bijak, dan sabar, sebagai seorang suami, beliau adalah suami yang paling baik terhadap istrinya.
Allah telah memberikan persaksian-Nya akan hal ini dengan berfirman:
‎وإنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
“Dan sungguh-sungguh engkau berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al Qalam: 4)
Bila kita hendak menghitung satu persatu akhlak beliau, niscaya kita akan menghadapi kesulitan, oleh karena itu Aisyah memberikan gambaran yang sangat jelas akan akhlak beliau dengan mengatakan:
‎كَانَ خُلُقُهُ القُرْآن
“Akhlak beliau adalah Al Quran.”
Inilah hakikat agama islam, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, sehingga banyak dari mereka beranggapan, bahwa agama islam identik dengan kekerasan, teroris, kaku, dll. Dan untuk lebih jelasnya, mari kita renungkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
‎أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. At-Tirmidzi no. 1082. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 1232; dinukil darisini)
Dalam riwayat Ahmad:
‎ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِكُمْ
“Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istri-istrinya.”
(Shahiih, HR. Ahmad)
Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‎إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya.”
(HR. Tirmidzi, ia berkata ‘hadits ini hasan gharib’. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Tirmidzi; dinukil darisini)
Syaikh al-’Utsaimin berkata,
Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa orang yang paling dekat dengan beliau adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya. Maka apabila akhlak anda semakin mulia niscaya kedudukan anda di hari kiamat kelak akan semakin dekat dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan selain anda.
(Syarh Riyadhush Shalihin, hal. 396-397; dinukil darisini)
Landasan pergaulan sesama muslim
Hadits-hadits yang menganjurkan seorang muslim untuk bersahabat dan disahabati sangat banyak sekali. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan hal ini dan menjelaskan keutamaan persaudaraan karena Allah, keutamaan saling mencintai karena Allah, dan menjelaskan keutamaan seorang mukmin yang bergaul (bersahabat) dan (bisa) disahabati dan hendaknya seorang mukmin dekat dengan saudara-saudaranya dalam banyak hadits.
Diantaranya adalah:
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
‎إن أقربَكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنُكم أخلاقا، المُوَطَّئُوْنَ أكنافا . الذين يَأْلَفُوْنَ ويُؤْلَفُوْنَ
((Sesungguhnya yang terdekat denganku tempat duduknya pada hari kiamat yaitu mereka yang terbaik akhlaknya diantara kalian yang pundak-pundak mereka terbentang[*] yang bersahabat dan disahabati))
[Mushonnaf Abdurrozaq As-Shon’ani 11/144 no 0153, At-Tobroni dalam Al-Mu’jam As-Shogir 2/89 no 835, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6/270 no 8118, Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini (dengan lafal seperti ini) adalah hasan ligoirihi (Shahih At-Targhib wat tarhib no 2658); dinukil darisini]
‎* المُوَطَّئُوْنَ yaitu dengan sighoh isim maf’ul diambil dari kalimat التوطئة yang maknanya membentangkan (merendahkan). Disebut فراش وطيء tempat tidur yang terbentang jika tidak mengganggu lambung yang tidur di atasnya. Dan yang dimaksud dengan الأكناف adalah sisi-sisi tubuh seseorang dan maskud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang sisi-sisi mereka terbentang yang memungkinkan dijadikan sahabat dengan tidak merasa terganggu, dan ini merupakan balagoh yang sangat baik
(Faidul Qodir 3/464-465; dinukil darisini)
Dan juga dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya yang diriwayatkan dari beberapa jalan dan ia adalah hadits yang shahih bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
‎المؤمن يألف ويؤلف
((Seorang mukmin itu bersahabat dan disahabati))
[HR At-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 6/58 no 5787. Berkata Al-Haitsami "Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Bazzar dan para perowi Ahmad adalah para perowi as-shahih” (Majma’Az-Zawaid 8/87); dinukil darisini]
Dalam lafazh yang lain:
‎ المؤمن مَألفة
((Seorang mukmin itu adalah tempat untuk persahabatan))
[HR Ahmad 5/335 no 22891, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6/271 no 8120, At-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 6/131 no 5744 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/784 no 425; dinukil darisini]
Orang yang melihatnya merasa sreg (merasa tenang) bersahabat dengannya karena tidaklah yang ia menampakkan pada saudara-saudaranya dan pada masyarakat kecuali kebaikan. Allah telah memerintahkan hal itu kepada seluruh manusia dalam firmanNya
‎وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
(serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia)
(QS. 2:83).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
‎الْمُؤْمِنُ يَأْلَفُ وَيُؤْلَفُ ، وَلا خَيْرَ فِيمَنْ لا يَأْلَفُ وَلا يُؤْلَفُ
((Orang mukmin adalah bersahabat dan disahabati dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bersahabat dan tidak disahabati))
[Lihat As-Shahihah 1/784 no 425; dinukil darisini]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتُدْرِكْهُ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْتِي إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ
“Barangsiapa ingin dijauhkan dari api neraka, dan ingin dimasukkan ke dalam surga maka hendaklah ia menemui kematiannya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, serta memberikan kepada manusia sesuatu yang ingin diberikannya kepadanya.”
(Shåhiih, HR. Ahmad; dishahiihkan oleh Syaikh Ahmad Syaakir)
Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
‎لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai (menginginkan) bagi saudaranya segala (kebaikan) yang dia sukai bagi dirinya sendiri”
[HR Al-Bukhari (13) dan Muslim (45); dinukil darisini]
dalam riwayat lain:
‎وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْه
“Hendaknya ia memberi kepada orang lain apa yang ia suka untuk diberikan padanya.”
[HR Muslim (1844); dinukil darisini]
Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
‎لاَتَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوْا
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidaklah ada (kesempurnaan) iman sampai kalian saling mencintai…”
[(HR Muslim (54), Abu Dawud (5193), dan at-Tirmidzi (2689); dinukildarisini]
Mengikat tali persaudaraan diatas iman dan takwa
Allah dalam Al-Qur’an yang agung telah menganugerahkan kenikmatan bagi hamba-hambaNya dengan menjadikan mereka -dengan anugerahNya, dengan Islam- menjadi saling bersaudara.
Allah berfirman
‎فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتٌمْ عَلَى شَفَى حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا
“Lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kalian dahulu berada di tepi jurang neraka lalu Allah menyelamatkan kalian darinya”
(QS Ali ‘Imron 103)
Allåh berfirman
‎إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.
(Al-Hujuraat: 10)
Råsulullåh shållallåhu ‘alauhi wa sallam bersabda:
‎كُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا
…jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara…
(HR. Muslim)
Dan Allah telah menganugerahkan kenikmatan bagi hamba-hambaNya yang beriman dengan menyatukan hati-hati mereka, dengan anugerah-Nya Allah menjadikan mereka saling bersaudara, yang hal ini menunjukan kepada kita bahwa kecintaan karena Allah dan bahwasanya persaudaraan karena Allah adalah merupakan kenikmatan yang sangat agung yang telah Allah tanamkan di antara hati-hati orang-orang yang beriman, satu dengan yang lainnya dan hendaknya memperhatikan kenikmatan yang agung ini, menjaganya, dan mengakui bahwa ia adalah anugerah dari Allah.
Oleh karena anugerah dari Allah hendaknya dijaga dan kesengsaraan hendaknya dijauhi dan diwaspadai. Oleh karena itu Allah berfirman فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا ((Lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara)), berkata sebagian Ulama menafsirkan firman Allah بِنِعْمَتِهِ (karena nikmat-Nya), ini adalah peringatan bahwasanya terjalinnya tali persaudaraan dan terjalinnya tali cinta kasih diantara kaum mu’minin hanyalah karena karunia Allah, sebagaimana dijelaskan dalam ayat yang lain:
‎لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِيْ الْأَرْضِ جَمِيْعًا مَا أَلَّفْت بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
“Walaupun engkau membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi niscaya engkau tidak bisa mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah-lah yang telah mempersatukan hati mereka”
(QS Al-Anfal:63)
Maka yang menjadikan seseorang mencintai yang lainnya dan menjadikan hati-hati manusia menjadi bersatu padahal mereka berasal dari penjuru dunia yang beraneka ragam, dari ras dan bangsa yang bermacam-macam, dari martabat yang bertingkat-tingkat, yang menjadikan mereka saling mencintai, menjadikan mereka sama dalam perkara yang satu yaitu beribadah kepada Allah –yaitu mereka menjadi saling bersaudara karena Allah- adalah Allah dengan karunia nikmat-Nya.
Oleh karena itu Allah berfirman:
‎قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat Allah itu lebih baik dari yang mereka kumpulkan”
(QS Yunus 58)
Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya membawakan perkataan ‘Umar dalam menafsirkan ayat diatas:
“Karunia Allah dan rahmatNya adalah Al-Qur’an”
[Tafsir Ibnu Abi Hatim 6/1960 no 10435; dinukil darisini]
Maka perkara yang paling agung untuk digembirakan adalah seorang hamba (yang bersaudara) adalah (memupuk tali persaudaraan dengan bahu-membahu) melaksanakan perkara-perkara yang datang dalam Al-Qur’an, yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah sesuatu yang terbaik bagi kita baik di kehidupan dunia maupun di akhirat kelak.
Allåh berfirman:
‎وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
(Al Maa-idah: 2)
Allah berfirman
‎وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنكَرِ
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar.
(QS. 9:71)
Para ulama mengatakan bahwa firman Allah { بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} ((Sebagian mereka dari sebagian yang lain)) yaitu sebagian mereka menolong sebaian yang lain, sebagian mereka mengasihi sebagian yang lain, sebagian mereka mencintai sebagian yang lain dan seterusnya demikan pula pada hak-hak persaudaraan yang lainnya.
Maka saling berwala (sikap loyalitas diantara kaum mukminin) merupakan ikatan yang terjalin antara seorang mukmin dengan mukmin yang lain, antara seorang muslim dengan muslim yang lain, dan hal ini (loyalitas tersebut) memiliki tingkatan-tingkatan berdasarkan tingkat hubungan diantara mereka, berdasarkan tingkat kasih sayang antara seseorang dengan saudaranya, dan hak-hak (persaudaraan) ini banyak macamnya dan kami hanya menyebutkan sebagian saja.
(dinukil darisini)
Keutamaan persaudaraan karena Allah
Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
‎ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي
Bahwasaya Allah berfirman pada hari kiamat “Dimanakah orang-orang yang saling mengasihi dengan keagunganKu, maka pada hari ini aku menaungi mereka di bawah naunganku pada hari tidak ada naungan kecuali naunganKu”
(HR Muslim no 2566, dari hadits Abu Hurairah, kitabul Adab, bab Fadlul hubbi fillah; dinukil darisini)
Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
‎مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Orang-Orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)’
(HR. Muslim)
Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
‎ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ
”Tiga perkara yang jika terdapat pada diri seorang maka ia akan merasakan manisnya iman:
مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا
(1) Jika Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya.
وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ
(2) Ia mencintai seseorang yang mana tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah.
وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
(3) Ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran tersebut, sebagaimana ia benci untuk dilempar ke dalam Neraka”
[HR al-Bukhari (16 dan 21), serta Muslim (43); dinukil darisini]
Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
‎سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ
“Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi dengan naungan-Nya, pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.
الإِمَامُ الْعَادِلُ
(1) Pemimpin yang adil.
وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ
(2) Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah.
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ
(3) Pria yang hatinya selalu terikat dengan masjid.
وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ
(4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah; dia berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا، حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ،
(5) Seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya.
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ،
(6) Seseorang yang berdzikir kepada Allah secara menyendiri, lalu air matanya berlinang.
وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إلى نَفْسِهَا فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
(7) Lelaki yang diajak (berzina) oleh wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu dia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah `Azza wa Jalla.’”
[Riwayat al-Bukhari dalam Shahīh-nya I/234/629 dan Muslim dalam Shahīh-nya II/715/1031; dinukil darisini]
Ketinggian derajat akhlak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
‎إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ
”Sesungguhnya seseorang yang memiliki akhlak yang baik benar-benar akan mencapai derajat orang yang shalat malam dan berpuasa pada siang harinya.”
(HR. Imam Ahmad Al-Fathur Rabbani (XIX/76) dan Al Hakim (I/60), dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no. 1620; dinukil darisini).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
‎مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ
“Tidak ada satu apapun yang diletakkan di atas mizan yang lebih berat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya pemilik akhlak yang baik benar-benar akan mencapai derajat orang yang berpuasa lagi mendirikan shalat.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2003 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no. 5726; dinukil darisini)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
‎أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku pemimpin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat kusir meskipun ia benar.Aku pemimpin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun sendau gurau. Dan aku pemimpin pada sebuah rumah di ketinggian surga bagi orang yang baik akhlaknya.”
(HR. Abu Dawud no.4800 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami’ no. 1464; dinukil darisini)
Sumber
- “Berhias dengan akhlak yang baik” http://an-naba.com/berhias-dengan-akhlak-yang-baik/
- “Sudahkah kita meneladani akhlak salafush shalih?”http://abumushlih.com/sudahkah-kita-meneladani-akhlak-salafus-shalih.html/